Kursi Roda

Wednesday, 20 April 2016

KEPEDULIAN SOSIAL. Mari Berempati kepada Penyandang Cacat



Sejumlah siswa SD negeri dan swasta belajar menjadi pendorong rekan penyandang cacat di kursi roda dalam acara Hari Sensivitas Penyandang Cacat, Jumat (30/3) di Japan Foundation Jakarta.

Sejumlah murid SD di Jakarta, Jumat (30/3) di The Japan Foundation Jakarta, diajak untuk berempati kepada para penyandang cacat. Anak-anak yang secara fisik normal tersebut berbaur dengan rekan-rekannya penyandang cacat.

Mereka dibagi dalam tiga kelompok simulasi. Kelompok pertama belajar bahasa isyarat untuk tunarungu, kelompok kedua belajar huruf Braille, kelompok ketiga belajar menggunakan kursi roda.

Dalam waktu satu jam, siswa SD Negeri 04 Menteng, siswa SD Negeri 12 Pagi Cipete, dan siswa SD Al Azhar yang berbaur dengan murid penyandang cacat tunanetra SLB A Pembina Tingkat Nasional, tunarungu SLB B Santi Rama, tunadaksa dari YPAC, dan kelompok music interaksi (anak down syndrome dan autis) sudah menguasai keterampilan baru itu. Mereka saling Memperkenalkan diri dengan bahasa isyarat, menulis nama dalam huruf Braille, dan mulai lincah menggerakkan kursi roda.

Kegiatan ini merupakan bentuk perayaan ditandatanganinya Konvensi Hak-hak Asasi Penyandang Cacat Resolusi PBB di New York, Amerika Serikat, Jumat (30/3) pagi waktu setempat. Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah pun turut hadir dalam sidang PBB tersebut.

Mengenal Pluralitas
Kegiatan ini, menurut Maulani R dari Forum Hak Penyandang Cacat Indonesia,  menandai dimulainya strategi penyadaran masyarakat lebih mengenal dan memahami penyandang cacat.

Komnas HAM pun – seperti dipaparkan Taheri Noor, salah seorang komisioner dari Komnas HAM – mempunyai visi untuk meningkatkan perlindungan dan penegakan hak asasi manusia, termasuk kepada para penyandang cacat telah menyusun berbagai program. Antara lain dengan segera mengaplikasikan konvensi tersebut dalam bentuk undang-undang, serta mendorong amandemen UU Nomor 4 Tahun 1997 tentang Penyandang Cacat yang bersifat donasi (bantuan-bantuan social) menjadi undang-undang yang ability, yaitu berupaya meningkatkan kemempuan para penyandang cacat. 

Guna menyosialisasikan dimulainya proses penandatanganan konvensi ini, Persatuan Penyandang Cacat Indonesia (PPCI) bersama mitra kerjanya – Handicap International dan Komnas HAM – merencanakan untuk menyelenggarakan serangkaian kegiatan kampanye kepedulian terhadap semua lapisan masyarakat dari tingkat provinsi sampai kabupaten. Karena itu anak-anak juga disentuh. Memberikan pengalaman pada anak-anak untuk berteman dengan kawan-kawan mereka yang menyandang cacat, misalnya, dinilai sangat penting sebagai bagian dari proses pendidikan untuk mereka.

“Anak-anak adalah calon pemimpin di masa mendatang. Pemimpin yang baik perlu memiliki kepekaan social yang tinggi, termasuk kepekaan terhadap masalah yang dihadapi warga masyarakat penyandang cacat,” kata Siswadi, Ketua PPCI. (LOK)

No comments:

Post a Comment